Thursday, August 15, 2013

Nadia

yesterday I got this privilege to do the photograph of this beautiful little girl named Nadia.
she is the first daughter of my lovely aunty.
these are five of my favorite capture.
she is the most difficult baby to photograph-ed by far after Mas Bayu (my fiance).
but finally I can managed to capture some of her pretty face!
grow bigger (or never get old?) and prettier lova!
read this blog when you grow up ;)
kak Shafira loves you very much!






xx
Read More - Nadia

Monday, July 16, 2012

Menaklukkan Bromo, atau Ditaklukkan Bromo? (part 2)


Setibanya di villa, terasa banget hawanya super duper hyper dingin banget! Padahal masih jam 4 sore, tapi udaranya lebih dingin daripada Kota Malang di malam hari. Temen-temen yang habis berenang di air terjun tadi langsung rebutan mandi. Maklum, kamar mandi villa cuma ada 2, jadi kasus antrian tak terelakkan lagi. Sementara aku, mlungker aja. Jangankan nyentuh air, nyentuh lantai aja ogah. Ini lantai apa es batu?

Selagi nungguin gilirannya mandi, beberapa temen ada yang beli-beli keperluan tambahan untuk udara dingin, seperti sarung tangan, kerpus, syal, dll. Aku sih kemarinnya sudah nyiapin segalanya dari Surabaya, sudah dianterin si pacar beli-beli segala keperluan yang kayak gitu, jadi gak perlu beli lagi. Sambil mlungker memang enak kalau sambil makan nasi bungkus, lumayan untuk mengurangi rasa kedinginan. Apalagi aku belum makan nasi sejak tadi pagi.

Jam 16:30 PM, Hilal usul untuk pergi ke puncak kawah Bromo sore itu juga. Because what? Karena kalau besok pagi kita lihat sunrise (matahari terbit) dengan jalan kaki, trus siangnya langsung dilanjut ke puncak kawah Bromo jalan kaki juga, kaki-kaki bakalan rontok dan putul semua. Yeah, beginilah kami, menghemat pengeluaran sepelit mungkin. Lebih milih jalan kaki ratusan kilometer ketimbang bayar mahal sewa mobil hardtop untuk paket tour Bromo sunrise-kawah. Oke lah, usul diterima. Aku dan beberapa temen memutuskan untuk gak mandi karena waktunya mepet, nggedor-nggedorin temen-temen lain yang masih di kamar mandi biar cepet kelar, sebab paling lambat jam 5 sore kita harus sudah berangkat. Bukan karena apa, kita ngejar waktu sebelum matahari terbenam. Gak lucu khan kalau gelap-gelap kita masih mendaki gunung.

Dengan keburu-buru, kita siapin perlengkapan pendakian. Supir mobil ELF-nya ngasihtau kalau jalan yang kita tempuh itu gak deket, dan gak jauh, tapi, sangat jauh! Bukan hanya 1 atau 2 kilometer, tapi mungkin bisa sampai puluhan kilometer. Aku nelen ludah pas denger itu. So, yang wajib kita bawa adalah senter, perbekalan makanan-minuman, serta minyak kayu putih. Jangan lupa pakai jaket, kaos kaki, sepatu, sarung tangan, syal, dan kerpus. Wow serasa bakal berpetualangan seru nih. Aku langsung ganti baju lengan panjang, pakai jaket tebel cokelat, dan luarnya dilapis lagi pakai jaket yang lebih tebel, jaketnya tanteku yang biasa dia pakai mendaki gunung waktu jadi mahasiswa pecinta alam UI. Singkatnya, segala yang aku pakai berlapis dua, alias double-double. Mulai dari jaket, kaos kaki (aku pakai kaos kaki bola yang setinggi lutut), sarung tangan, syal, bahkan kerpus juga double-double, berlapis-lapis, dan bertumpuk-tumpuk. Semua itu atas perintah si pacar yang nyuruh aku kayak gitu. "Pokoknya semua harus di double-double. Bromo itu dingin banget, gak kayak Pacet atau Malang!", gitu katanya. Jadi kemarin sorenya sebelum berangkat aku dan pacar sampai beli perlengkapan dua-dua. Meski aku punya kaos kaki, pacar beliin lagi buat di-double-in. Meski aku punya sarung tangan, pacar beliin lagi buat di-double-in. Begitu untuk seluruhnya. So sweet khan?

Jam 5 sore, kita jalan kaki menuju puncak kawah Bromo. Afif gak ikut karena dia jaga villa. Sebelum tiba di gunungnya, kita harus melewati padang pasir yang luasnya entah berapa ratus kilometer. Kilometer men, kilometer!! Karena berangkat rame-rame, ya kita asyik aja. Baru beberapa meter jalan, kakiku sudah pegel. Padahal masih 0,0001%-nya perjalanan tuh. Gunung Bromo-nya juga masih juauh buanget! Tapi aku tetep semangat, demi tiba di puncak kawah Bromo yang melegenda itu!

Perjalanan semakin jauh, aku lihat sudah jam 17:30 PM, tapi kita masih di padang pasir dan bukit-bukit batu, belum nyentuh kaki Gunung Bromo-nya. Fiuhh! Langit sudah mulai gelap. Di padang pasir seluas ini juga sudah gak ada pengunjung lain blas, cuma kita ber-duapuluhsatu yang jadi pengunjung satu-satunya.

Jam 18:00 PM. Langit sudah benar-benar gelap! Tentunya, di padang pasir dan gunung kayak gitu samasekali gak ada lampu. Udara dinginnya juga sudah semakin nyelekit, menusuk ke kulit. Di kaki gunung, jalannya mulai menanjak. Cuapek banget! Berton-ton pasir masuk ke dalam sepatu kita, tapi kita gak peduli. Beberapa temen ada yang nyerah gak kuat naik lagi, jadi mereka memilih untuk stay disana, nunggu kita-kita yang masih kuat naik untuk segera menuju puncak dan balik lagi trus lanjutin pulang ke villa bareng-bareng. Aku termasuk dalam rombongan yang masih tetep lanjut naik menuju puncak kawah. Sialnya, rombongan yang masih pada kuat-kuat ini gak ada yang bawa senter. Senter-senter yang kita bawa dari villa tadi semuanya dipakai sama rombongan temen-temen yang kita tinggalkan karena gak kuat naik tadi. Untung aja, dari ketiga ponselku, dua diantaranya ada aplikasi senter. Jadilah aku pakai salah satunya sebagai penerang kita, dan satunya gak bisa tak nyalain senternya. Bukan karena rusak, tapi karena, aku lupa gimana cara nyalain senternya!! Hoah!! Dengan udara sedingin itu, rasanya otakku beku, gak bisa mikir blas!

Selama pendakian itu, aku gupuh utak-atik hp nyari cara buat hidupin senternya, sambil gandeng tangan temenku yang nuntun aku sambil nerangin jalan pakai senter dari hp ku yang satunya. Akhirnya aku nyerah untuk hidupin senter, kita terpaksa pakai 1 senter aja. Parah abis. Jam sudah menunjukkan pukul 18:30 PM. Udara dingin semakin lama semakin ganas. Aku yang pakai pakaian serba double-double pun merasa kedinginan, gimana temen-temen lain yang cuma pakai jaket selapis aja..

Semakin naik jalannya, semakin menanjak, semakin dingin, semakin malam, dan semakin banyak pula temen-temen yang jatuh berguguran karena gak kuat untuk naik lagi ke puncak. Pada akhirnya, dari 21 orang, cuma 8 orang (termasuk aku) yang masih gigih lanjut terus mendaki. Yang aku pikirkan cuma satu, percuma gak maju sampai puncak setelah capek-capek jalan puluhan kilometer gini. Jam 18:45 PM, Nayu, Farmut, Iin, Peki, Rizal sudah tiba di puncak kawah Gunung Bromo, tanpa senter, karena satu-satunya senter yang ada cuma dari hp ku yang masih tak bawa. Gila, hebat banget sih mereka! Sementara aku, Hilal, dan Ulil baru mau naik ke tangga di kaki gunung yang menuju ke atas pucak kawah. Tangganya tuh tinggi banget, mungkin lebih dari 200 anak tangga. Aku naik mungkin baru 50 anak tangga, sudah capek buanget. Aku pun nyerah, bener-bener gak kuat naik lagi. Kekuatanku habis. Badanku gemeteran. Sumpah, kali itu sudah diluar batas kemampuanku.

Aku memutuskan nungguin mereka di tangga aja. Sebenernya eman sih, sudah sampai sejauh itu, kurang 2% lagi, tapi berhenti. Gak apa-apa lah, daripada sakit. Jadi, Hilal dan Ulil bakal terus lanjut naik ke puncak sambil bawa senterku, jemput temen-temen yang sudah sampai di puncak kawah, abis itu turun bareng-bareng jemput aku. Oke lah. Mereka berdua naik. Aku diem duduk di tangga. Aku lihat cahaya senter yang mereka bawa semakin lama semakin kecil, lalu akhirnya menghilang gak kelihatan sama sekali. Aku takut banget. Duduk sendirian di tangga Gunung Bromo, dingin, gemeteran, tanpa senter, gelap banget, aku gak bisa lihat apa-apa, serasa lagi merem. Aku mulai coba berusaha lagi nyalain senter di hp satunya yang daritadi gak bisa itu. Alhamdulillah tiba-tiba aku langsung inget cara nyalainnya. Flap! Senternya nyala. Aku lega banget. Otak manusia memang gaspol-nya kalau lagi kepepet.

Meski senterku nyala, aku gak berani gerak-gerakin senterku sembarangan. Mengingat saat itu aku lagi di daerah asing yang sakral. Semua tau, Gunung Bromo adalah tempat ibadah umat Hindu suku Tengger. Di padang pasir tadi ada Pura, tempat mereka sembahyang. Aku gak mau ambil resiko kalau misal aku senter-senterin kemana-mana trus moro-moro cahayanya menangkap sosok makhluk halus penghuni gunung. Wew, kalau aku kaget, pingsan, dan jatuh dari tangga setinggi ini, aku bisa mati. Makanya, aku ambil amannya aja, aku cuma senterin kakiku dan mandangin tali sepatuku aja. Sumpah, aku gak berani lihat kemana-mana.

Aku ngerasa temen-temen tadi kok lama banget gak turun-turun. Semakin takut ditinggal sendirian dalam kondisi kayak gitu, aku teriak, "REEEK... AYO CEPETAAAN... AKU TAAAKUUUTT...". Suaraku bukan terdengar seperti orang yang teriak, malah cenderung lebih terkesan merengek pingin nangis. Suara Hilal pun menjawab, "IYA FIIIRR. SEKARANG RIZAL TURUN BUAT JEMPUT KAMUUU... HABIS ITU KITA NYUSUL. TUNGGU YAAA!!". Yeah, kita terpaksa teriak-teriak karena jarak kita terpisah puluhan meter dengan ratusan anak tangga. Dari tempatku duduk sendiri itu, aku bisa lihat ada 2 titik kecil yang bersinar dari padang pasir di bawah. Aku yakin, itu adalah sinyal dari senter temen-temenku yang nungguin kita untuk segera turun dan pulang ke villa bareng-bareng. Aku mulai merasa agak tenang waktu cahaya senter yang dibawa Rizal turun semakin deket menuju ke arahku. Terlebih waktu Rizal berkali-kali manggil namaku hanya untuk memastikan aku masih ada disana.

Akhirnya Rizal sampai, dia duduk di sebelahku. "Aku laper, tanganku gemeteran..." keluhku. Rizal nyuruh aku makan cokelat sebagai pengisi kalori. Satu-satunya cokelat yang ada di tasku cuma wafer. Langsung aku lahap sendirian karena Rizal nolak waktu tak tawarin. Kita berdua nunggu temen-temen yang di atas turun. Jam 19:15 PM, kita berdelapan sudah kumpul lagi, capcus turun tangga, menuju ke tempat dimana temen-temen yang lain pada nunggu di padang pasir.

Untuk menuju ke tempat titik-titik cahaya senter temen-temen yang lain itu gak gampang. Gimana nggak, jalannya gak kelihatan sama sekali. Apalagi medannya berbatu, berbukit, dan berpasir. Sampai perosotan di batu-batu berpasir curam pun kita jabanin. Untung kita bisa kembali jadi rombongan 21 orang lagi setelah berjuang keras. Kita semua masih harus lanjut jalan lagi menuju villa yang jaraknya puluhan kilometer. Sebelum melanjutkan perjalanan, Rizal mimpin doa supaya kita diberi perlindungan keselamatan dan kemudahan melewati ini semua. Semakin malam, udara dinginnya semakin liar. Beberapa temen ada yang jatuh sakit, pertahanan tubuhnya gak sanggup melawan hawa dingin gunung. Darah pun rasanya kayak membeku. Memang, ancaman terbesar kami ketika itu adalah hipotermia. Naudzubillah. Kita harus tetep jalan terus biar segera sampai villa dan istirahat. Sesekali kita berhenti untuk minum, makan snack, berhitung (untuk memastikan gak ada yang ketinggalan), dan mencari jalan diantara kegelapan. Kebetulan Dita bawa Galaxy Tab-nya yang ada aplikasi kompas. Kita cuma bisa mengandalkan arah kompas yang bahkan itu kita duga-duga sendiri harus ke arah mana.

Jam 20:15 PM. Kita kesasar total. Padahal sudah menempuh perjalanan jauh berjam-jam, tapi  samasekali gak semakin dekat dengan lampu-lampu restoran dan villa disana. Malah kayaknya semakin jauh. Perasaan kita sudah jalan lurus, bahkan dibantu kompas. Tapi kok gini. Hanya ada dua kemungkinan, kita benar-benar tersesat, atau ada makhluk-makhluk gunung yang menyasarkan kita sehingga kita jadi hanya berputar-putar aja disitu. Who knows.

Buntu sebuntu-buntunya. Solusi terakhir adalah: telepon bapak pemilik villa. Di padang pasir dan gunung kayak gitu lho Alhamdulillah ada sinyal. Iin telepon Pak Tono (bapak villa), nanyain arah. Tapi bapaknya cuma nyuruh kita untuk berdiri di bukit batu tertinggi dan ngasih sinyal dengan senter, karena nanti bapaknya bakal nyamperin kita. Oke. Sambil nunggu Pak Tono, kita juga tetep jalan terus biar semakin cepet sampai.

Agak beberapa lama, kita ketemu juga dengan Pak Tono. Woah, girang setengah mampus deh, seolah nemu oasis di gurun. Bapaknya bawa 1 ojek, untuk angkut anak yang sakit. Windy dan Ucil pun naik ojek karena kondisi mereka berdua yang paling parah diantara kami. Sisanya, lanjut jalan terus bareng Pak Tono. Aku jalan tepat di belakang Pak Tono untuk menyinari jalan di depan kami. Pak Tono bilang ke aku: "Satu-satunya yang kita takutkan kalau sudah malem gini cuma satu mbak, kabut! Untung kebetulan malam ini gak berkabut. Kalau misalnya berkabut ya mbak, senter jadi percuma karena jarak pandangnya pendek, 1 meter aja sudah gak kelihatan. Nah apalagi kalau kayak kalian gini, minta bantuan. Gak bakal kelihatan mbak. Penduduk sini gak bakalan tau kalau masih ada pengunjung kesasar di gunung". Mendengar penjelasan itu, lututku lemes. Astaga, jadi daritadi kita semua ini hampir seperti berjuang melawan maut ya. Edan!

Gak lama, ada ojek dateng lagi, siap jemput anak-anak yang sakit atau gak kuat jalan. Tapi kali ini temen-temen pada gak ada yang mau naik, pada bilang kalau mereka masih kuat. Walah, eman lho, sudah dijemput ojek gini padahal. "Kalau gak ada yang mau naik, aku yang naik lho" kataku ke temen-temen. Jadilah akhirnya aku yang naik ojek. Muehehehe.

Alhamdulillah. Kakiku selamat dari siksaannya. Dalam perjalanan, aku tanya ke tukang ojeknya, "Kalau kayak gini ini, suhu udaranya berapa pak?". Bapaknya jawab, "Yaa kurang lebih sekitar 7 derajat celcius mbak. Malah kalau bersalju bisa sampai nol derajat. Tapi untung malam ini gak berkabut. Tadi saya kebetulan lihat-lihat gunung dan kaget ngelihat ada cahaya senter. Sudah semalem ini tapi kok masih ada tamu? Langsung saya jemput mbak!". Duar! Kata-katanya hampir mirip dengan kata-katanya Pak Tono. Aku merinding. Selama perjalanan menuju villa aku gak berani tanya-tanya lagi. Aku gak mau mendengar apapun lagi yang lebih buruk dari ini semua.

Sampai villa, aku bayar ojeknya 25ribu, meski mahal tapi worth it lah dengan keselamatan kakiku. Di dalam villa, Ucil tepar di tempat tidur, kayaknya dia demam. Sementara Windy baru aja selesai sholat. Afif nyamperin aku minta diceritain, tapi aku kepingin mandi dulu. Pas mandi, woah, airnya super gila dingin. Untuk sabunan aja aku mati rasa, hampir beku. Mandinya tak cepet-cepetin, langsung ganti baju dan kelukupan pakaian plus jaket double-double lagi. Habis itu baru aku ceritain semuanya ke Afif.

Jam 21:15 PM, temen-temen yang lain baru tiba di villa. Nggeblak semua di tikar. Setelah istirahat beberapa menit, kita makan malam dengan nugget dan sosis goreng. Meski sederhana, tapi rasanya seperti makanan terenak di dunia! Habis makan, Pak Tono nyiapin api unggun di halaman villa. Sayang, api unggunnya kurang ter-apresiasi karena banyak yang sudah tidur kecapekan. Cuma aku dan 4 orang lainnya aja yang menikmati api unggunnya sampai padam.

Begitu masuk ke dalam villa lagi, ternyata sudah ada hasil rapat kalau besok pagi waktu kita lihat sunrise di Penanjakan, kita nyewa mobil hardtop aja. Mau gimana lagi. Bayangin aja, jauhnya menuju Penanjakan tempat view spot sunrise itu, dua kali lipat jauhnya menuju puncak kawah Bromo. Sinting banget kalau kita masih tetep pingin jalan kaki setelah semua yang kita lewati malam ini. Rencana awal lihat sunrise dengan jalan kaki kita coret. Demi kesehatan, kita bayar 65ribu per orang untuk sewa 3 mobil hardtop yang tarifnya 350ribu/6 orang. Oya, sudah tau mobil hardtop khan? Itu loh, mobil off-road 4X4 yang keempat rodanya muter (mobil biasa cuma dua roda belakang yang muter).

Malam itu kita tutup dengan istirahat massal. Gak ada acara begadang seperti waktu kita nginep di Pacet pada liburan semester lalu. Kita harus bangun jam 2:30 AM karena mobilnya bakal jemput jam 3:00 AM. Kita harus kejar waktu sebelum matahari terbit, sementara untuk mencapai view spot, butuh waktu berjam-jam perjalanan naik mobil.

.......bersambung 
Read More - Menaklukkan Bromo, atau Ditaklukkan Bromo? (part 2)

Wednesday, July 11, 2012

Menaklukkan Bromo, atau Ditaklukkan Bromo? (Part 1)

Bingung mau nulis mulai dari mana.
Banyak banget yang pingin tak ceritain..

****

Aku yakin banget petualangan kita kali ini gak akan pernah kita lupain sampai kapanpun! :D

Senin, 9 Juli 2012. Jam 5:45 AM. Aku baru bangun tidur karena ada BBM masuk dari Fuad. Singkatnya dia bilang: "Fir, jam 6 lho. Sudah bangun belum?". Kemudian seorang Shafira pun panik karena sesungguhnya rencana pemberangkatan kami dijadwalkan pukul 6 pagi. Lah itu baru bangun jam berapa? Ckck..

Yeah, kebiasaan mbangkong-ku memang sudah melegendaris sejak 1927. Sekitar jam 6:50 AM aku baru sampai di Kampus B depan PINLABS UNAIR. Semua sudah datang. Sepertinya kok mereka nunggu seseorang sampai pemberangkatan jadi tertunda 1 jam. Eh, ternyata mereka nungguin aku! Hehehe.... (garuk-garuk kepala)

Kita berangkat, 22 orang, naik 2 unit mobil ELF. Di mobil yang aku naiki, temen-temen pada nyanyi-nyanyi. Sampai pada akhirnya, si Fuad nyetel MP3 dari ponselnya sebab playlist yang disuguhkan oleh bapak supirnya kurang berkenan dengan selera musik anak muda gaul seperti kita. Yeah, meski kita mahasiswa ilmu sains, kita juga gak kalah gaul bro! (apaan...)

Eits, tapi jangan salah.... MP3 yang Fuad setel bukan lagu-lagu galau ataupun lagu jingkrak-jingkrak gitu, melainkan sebuah rekaman Tausyiah Agama. Ngerti tausyiah khan? Ceramah! Iya, ceramah agama! Tapi ini ceramah agama yang lain daripada yang lain loh. Kyai yang ngasih ceramah tuh lucu abeess!! Kocak badai!! Meskipun isi ceramahnya berbahasa guyonan jawi alus, kita masih bisa ngerti artinya kok, dan yang paling penting, makna utama isi ceramahnya juga gak nyimpang dari ajaran agama. Ide Fuad itu sukses bikin kita ngakak sepanjang jalan, ketimbang dengerin lagu ngebosenin dari stock playlist supir mobilnya. Hwokwokwok!

Capek ketawa, aku ketiduran. Trus temen-temen yang lain ngapain aja selama aku tidur? Mana gue tau! Yang aku tau, pas aku kebangun kita sudah masuk gerbang air terjun Madakaripura. Hah?? Air terjun?? Katanya gak ke air terjun? Gimana sih? Tiwas aku tadi gak bawa sandal! (lompat ke jurang)

Mobil masuk dan parkir. Sebelum turun, temen-temen pada ganti alas kaki pakai sandal. Aku cuma diem. Menatap jendela mobil dengan pandangan kosong. Pura-pura gak liat mereka. Aku hanya bisa berteriak dalam hati: "INI TIDAK ADIL! Kenapa aku gak dikasitau kalau rencana ke air terjunnya gak jadi batal? Kenapa cuma aku yang gak dikasitau? Itu yang lain pada siap sandal semua. Tapi aku?". Ah sudahlah.... Satu-satunya yang ada di pikiranku cuma sandal jepit merk League warna kuning kesayanganku yang tadi pagi sengaja nggak tak masukin tas, tak taruh aja di teras rumah karena ngirain acara ke air terjunnya batal, seperti keputusan yang diambil dalam rapat. Shafira pun galau tingkat langit lapis tujuh.

Pesan Moral: "Selalu bawalah sandal jepit kemanapun tujuan wisata anda. Entah itu bakal dipakai atau enggak, udah, bawa aja!!"

Semua siap. Aku mencuri lirik ke kaki para teman-temanku. Oh pinter sekali, semua sudah ganti pakai sandal ya. Wow. Trus apa yang harus aku lakukan? Lepas sepatuku? Atau curi sandalnya salah satu teman dan ngelempar orangnya ke air terjun? Bagiku, galau itu bukan tentang cinta, galau itu ya gini ini, tentang gak bawa sandal!

Ternyata eh ternyata, pas aku lirik-lirik ke kaki-kaki mereka, ada satu hal yang sedikit melegakan hati. Ada seseorang yang masih bersepatu! Dia adalah Hilal. Oh... Cowok. Dia sih pasti kuat jalan tanpa alas kaki. Tapi bagi aku yang kulitnya setipis sutera gini, bakal terasa seperti atraksi kuda lumping jalan di atas bara api. Kenyataan itu samasekali gak mengurangi rasa galau-ku, ditambah ketika Hilal benar-benar memutuskan untuk melepas sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki. Shit! I'm fucked!

Ah, paling juga rute-nya sama kayak air terjun Cuban Canggu di Pacet atau kayak Cuban Rondo. Disana khan gak lepas sepatu masih tetep gak basah karena ada jalan setapak dan jembatannya. Dengan keyakinan pemikiran sok tau-ku itu, aku berjalan dengan sepatuku tanpa memperhatikan apa kata teman-teman yang memandangku melas, seakan aku anak miskin yang gak bisa beli sandal. Grrr.. Lo pada gak ngerti, sebenernya gue punya sandal, dan sandal gue pun harganya gak kalah mahal dengan sepatu yang gue pake kok! (Shafira, kamu sabaro...)

Firasatku gak enak saat kita harus menyewa seorang tour guide untuk perjalanan menuju air terjun. Hey bro, buat apa? Emangnya kita gak bisa jalan sendiri kayak wisata di air terjun lain? Dalam beberapa meter perjalanan, pertanyaanku pun terungkap. Di salah satu medan, aku terpaksa melepas sepatuku dan berjalan telanjang kaki. Di situ medannya curam, kita dikelilingi tebing super tinggi, harus turun ke air dimana terdapat banyak batu-batu besar. Waktu aku mulai nyebrang air dan nginjek batu-batu besar yang licin dan tajam, aku meringis kesakitan. Airnya dingin pula! Oh gosh.. Gak ada jembatan kayak di air terjun Pacet gitu tah? Jawabannya, gak ada! Aku nahan nangis. Aku pingin pulang :(

Bapak guide yang melihat gadis cantik ini meringis kesakitan langsung sigap bertindak. Beliau meminjamkan sandalnya ke aku dan bersedia untuk membawakan sepatuku meski beliau jalan tanpa alas kaki. Astaga, bapak ini hatinya terbuat dari apa sih? Baik bangeeeettt!!

Kami semua melewati perjalanan sepanjang 2 km (kilometer) dengan medan batu-batu besar, jurang-jurang, serta tebing-tebing yang bertubi-tubi harus kita lewati demi tujuan akhir yang indah. Kesialan kedua yang aku alami adalah, aku pakai celana jeans model pensil. Yap, semua orang tau kalau model jeans kayak gitu tuh gak bisa dilinting keatas. Jadilah aku merelakan celanaku basah saat nyebrang hiliran air. Mana aku gak bawa ganti jeans lagi pula. Perfecto!

Separuh perjalanan, kita sudah capek buanget! Sudah berkali-kali lewati hutan, terperosok tebing, terpeleset batu, tergelincir jurang, sandal hanyut terbawa arus air, dll. Inilah mengapa kita WAJIB menyewa seorang tour guide. Karena medan perjalanannya sangat berbahaya dan sangat amat jauh banget! Tempat wisata air terjun di Pacet mah 2X lebih AMAN daripada disini. Sumpah ini kalau orang gak ngerti rute bisa kesasar dan celaka. Tapi berkat semangat bahu-membahu, sesaat lagi kita semua akan tiba di air terjun pertama yang itu pun masih 75% perjalanan.

Kita istirahat bentar. Kata si bapak guide, saat kita melewati air terjun yang pertama nanti, kita gak bisa menghindari airnya. Semua pasti basah kuyup karena jatuhan airnya seperti hujan deras. Gak ada daerah kering. Dan disitu pun banyak orang nyewain payung. Jadi barang-barang elektronik sebaiknya ditaruh kresek. Kita akhirnya beli kresek besar untuk wadah tas dan jaket supaya gak basah.

Bener aja, di air terjun yang pertama ini sensasinya luar biasa keren dan seru. Kita serasa disiram hujan yang gak berhenti-berhenti di sepanjang jalan. Kita berjalan maju terus di antara celah tebing air terjun yang sempit, melewati terjangan derasnya air terjun yang gak berhenti membasahi tiap inchi tubuh kita dari atas ke bawah. Wow!! Wonderful! Susah dijelaskan dengan kata-kata deh! Semua pada teriak-teriak dan ketawa. Gak ada yang mau nyewa payung karena justru serunya basah-basahan ini yang kita cari!

Perjalanan diteruskan, air terjun "hujan" itu kita tinggalkan, menuju ke air terjun utama di akhir perjalanan. Masih dengan medan terjal, curam, dan bahaya yang sama. Masih saling angkat-mengangkat teman untuk naik ke atas, gandeng-gandengan teman saat menyebrang air atau menuruni medan terjal. Super seru pokoknya. Serasa berpetualang di Hutan Amazon! Nah loh..

Daaaann... Tararaaa... Sampailah kita pada tujuan akhir. Air terjun utama Madakaripura. Air terjunnya sudah tampak di depan mata. Tapi sebelumnya kita harus melewati satu medan lagi yang  bagiku merupakan medan ter-mengerikan dari medan-medan berbahaya sebelumnya. Disitu ada dinding tebing yang menonjol besar, menutupi jalan kita untuk menuju air terjun. Cara lewatnya, kita jadi cicak. Nempel dan merayap di lengkungan dinding tonjolan tebing licin itu buat nyebrang. Piye ya, kalau gak digambar pakai gambar oret-oretan gitu, susah dideskripsikan. Yang bikin aku pol takut banget, di bawahnya ada jurang langsung yang menganga, mana tinggi banget! Jadi seumpamanya kita kepeleset saat merayap di batu tonjolan itu, kita bakal jatuh bebas, kecemplung jurang dengan aliran air deras karena itu muara pertama air terjun utamanya. Naudzubillah!

Aku merayap dengan tangan bergetar hebat. Gak bisa nolak untuk gak lihat ke bawah. Aku pingin merem, tapi ntar malah jatuh karena aku gak bisa lanjut jalan saat tanganku sudah mulai licin megang batu pegangannya. Pilihannya cuma dua, terus bergerak maju, atau jatuh. Mulutku komat-kamit baca Bismillah. Pikiranku berbisik: "Please jangan mati sekarang!".

Ajaibnya, aku berhasil melewati benda mengerikan itu. Hadiahnya apa? Sebuah pemandangan air terjun paling spektakuler yang pernah dilihat langsung oleh mataku! Subhanallah... Allahu Akbar!!! Air terjun super tinggi, menggerojokkan triliunan liter air dengan kecepatan ratusan knot. Sebuah danau mini seolah menampung tumpahan airnya. Gak sia-sia menempuh 2 km perjalanan berbahaya kalau buahnya begitu menyejukkan mata. Duh kalau ditulis gini memang gak bisa menggambarkan maha-indahnya. Semua mulut kami saat itu berlomba-lomba mengucapkan kalimat pujian terhadap kehebatan Allah SWT. Siapa lagi yang bisa menciptakan kedahsyatan ini selain Allah? Aku heran terhadap orang atheis yang meragukan keberadaan Allah. Ada bukti luar biasa kayak gini tapi mereka masih gak percaya akan adanya Tuhan. Astaghfirullah.

Bapak guide ngasih info, kedalaman danau di sebelah kiri sekitar 7 meter, dan di sebelah kanan yang air terjunnya agak kecil dalemnya 4 meter. Boleh berenang, asal jangan yang di danau sebelah kiri. Meski orang jago renang, mereka gak akan bisa selamat karena di bawah danau yang tepat berada pada gerojokan air terjun utama terdapat gaya hisap seperti pusaran air. Entah itu apa. Tapi sudah banyak menelan korban jiwa. Sebagai pengunjung/tamu, kita memang selayaknya menghargai kepercayaan yang ada demi keselamatan diri.

Oya sekedar info nih. Disamping keindahan air terjun Madakaripura, kalau kita perhatikan di baliknya terdapat sebuah gua. Nah gua itu adalah tempat meditasi atau bertapa-nya Gajah Mada. Udah pada tau Gajah Mada khan? Itu loh, binatang besar yang belalainya panjang. Hahahaha! Gak lucu..

Capcus langsung semua foto-foto. Bahkan ada yang renang. Iya, renang. Pakai baju lengkap, beserta cardigan, dan celana jeans. Super sekali! Tapi apesnya (apes melulu nih), maag-ku kambuh. Nyosss... panas perutku. Sial! Aku langsung minggir ke tepi dimana tas-tas para prekintil itu disimpan. Mending aku jaga tas aja, sambil megangin perutku (lambai-lambaikan tangan ke kamera).

Setelah semua puas foto-foto dan renang, mmm... setelah semua membeku kedinginan lebih tepatnya, kita memutuskan untuk balik. Satu hal yang gak aku suka, kita harus melewati tonjolan tebing mengerikan itu LAGI! Ya Allah, aku lebih milih nonton film horor 48 jam nonstop daripada merayapi batu tonjolan extra-horor ini meski cuma 3 menit! Karena temen-temen pada kedinginan pingin buru-buru balik, jadilah aksi perayapan massal itu menimbulkan antrian. Adegan paling tegang dimulai, saat aku lagi konsen merayapi nasib (eh, itu meratapi deng!). Ulang. Saat aku lagi konsen merayap dengan mengerahkan seluruh keberanian, ternyata di depanku ada Nayu yang masih diem, nunggu anak di depannya lagi untuk dibantu melewati batu gila ini. Jadilah aku diem juga, terpaku, tak bergerak, tak bergeser, memijak pada batu yang semakin licin, tanganku mencengkram kuat bagian batu yang juga semakin licin. Aku nelen ludah pas lihat jurang di bawah. Badanku kaku dan gemeteran. Peganganku sudah gak mantep lagi, hampir lepas. Aku gak tahan. Phobia tempat tinggi-ku kambuh...

Gak terasa, aku menitikkan air mata dan mulai merengek "Aaakuu taaakuuutt... Woaaaaa... Tooloooong... Hwaaa... Hwaaa...". Melihat kondisiku yang kayak orang gak punya harapan hidup, Rizal langsung buru-buru bantuin aku, dia langsung cepet megang tanganku, menyelamatkanku dari keputus-asaan. Meski Rizal sudah megang tanganku ditambah bapak guide megang tanganku yang satunya, aku tetep sangat takut bergerak. Panas asam lambung di perutku semakin keras, mataku terpejam, aku pasrah. Tapi Rizal teriak: "Gak usah takut! Aku pegangin kamu! Bentar lagi nyampe! Ayo gerak!". Sekarang, selain aku takut sama jurang, aku juga takut sama bentakannya Rizal.

Entah gimana prosesnya, akhirnya aku berhasil lewatin benda gila itu. Mungkin ada malaikat yang tadi gendongin aku terbang kali ya. Wallahua'lam. Tapi Alhamdulillah Allah masih ngasih aku umur panjang (raba-raba pipi, melototin tangan). Perjalanan dilanjutkan. Bapak guide pun setia berada di sisiku karena perintahnya Rizal untuk jagain aku, personil yang paling merepotkan ini. Kita semua mengulangi medan-medan terjal nan curam lagi. Setiap aku mau jalan, bapak guide-nya langsung cekatan bantuin aku. Tapi setelah aku berhasil lewatin medannya, temen-temen lain malah gak dibantuin sama bapaknya. Mana bapaknya juga rela bawain semua barang-barangku pula, tapi punya temen-temen yang lain enggak. Ya ampun pak, gak gitu-gitu juga kaleeee. Aaaduuuhhh.... (ala sketsa).

Total kita menempuh perjalanan 4 km bolak-balik. Kalau jarak segitu di jalanan aspal sih gak masalah. Tapi kalau........ Ah, sudahlah....

Kita semua kembali ke tempat parkir mobil dengan selamat. Capek. Ngos-ngosan. Aku kembaliin sandal bapaknya yang aku pinjem. Setelah kegiatan sholat-sholat serta ngakak guyon bersama, kita masuk ke mobil, lanjutin tujuan berikutnya, ke villa!!!

.......bersambung
Read More - Menaklukkan Bromo, atau Ditaklukkan Bromo? (Part 1)

Friday, July 6, 2012

hantu wanita

Pengalaman ini terjadi padaku belum lama, kira-kira dua bulan yang lalu. Aku adalah seorang mahasiswi jurusan teknik di sebuah universitas negeri di Bandung. Hari itu adalah hari yang melelahkan untukku, karena hari itu aku menjalani ujian tiga mata kuliah sekaligus. Dari pagi hingga sore. Ditambah lagi hari itu aku kebetulan sedang datang bulan hari kedua.

Sekitar pukul tiga sore, saat pergantian ujian, aku meminta izin kepada pengawas untuk ke kamar mandi. Aku merasa sangat tidak nyaman. Aku harus mengganti pembalut. Akhirnya dengan tergesa-gesa, aku ke kamar mandi kampus dan mengganti pembalut. Pembalut yang lama aku taruh begitu saja di tempat sampah kamar mandi dan aku pun menggantinya dengan yang baru. Karena akan menghadapi ujian berikutnya, aku segera meninggalkan kamar mandi dengan terburu-buru.

Sekitar pukul tujuh malam, aku sampai di kost-an. Aaaah, lega rasanya! Dengan cepat aku membuka kunci kamar, melemparkan tas dan jaket yang sedang kupakai, dan menyambar alat mandi yang digantung di depan kamarku.

Kamar yang aku tempati letaknya agak jauh dari kamar mandi. Maklum, demi mendapatkan harga murah, aku memilih tempat kost yang tidak terlalu mewah. Untuk menuju kamar mandi, aku harus melewati tiga kamar dan satu lorong. Heran, jam segini kok anak-anak belum pada pulang, gak kayak biasanya. Aku jadi agak merinding.

Saat membuka baju aku mulai merasa udara ternyata menjadi lebih dingin dari yang kubayangkan. Aahh, tapi aku harus memaksakan diri untuk mandi, karena kondisi badanku tidak bersih. Biasalah kalau lagi dapet. Aku juga membuka pembalut yang tadi sore aku ganti di kampus, dan aku menaruhnya di pojok kamar mandi.

Akhirnya aku mulai membersihkan badanku. Astagaaa dingin sekali! Dingin, tapi sangat menyegarkan. Aku merasa beban seharian tadi hilang. Aku mulai mengguyur kepalaku sekali lagi, dan ketika aku membuka mata, aku.... aku melihat seolah ada yang sedang mengintipku dari celah pintu. Tapi... ah, mungkin cuma perasaanku saja! Aku agak mempercepat mandinya dan segera membersihkan pembalut yang aku taruh di pojok kamar mandi.

Aku mengambil pembalut itu, dan belum sempat aku membersihkannya, lampu kamar mandi tiba-tiba mati. Ah! Sial! Lalu aku mencoba mencari korek gas yang biasanya disimpan anak-anak di atas pintu kamar mandi. Mereka biasa menyimpan itu untuk keperluan mereka saat ingin merokok. Biasalah, supaya tidak ketahuan. Namanya juga kost-an cewek.

Kemudian aku mencoba menyalakan koreknya, tapi baru sebentar apinya menyala, sudah mati lagi seperti tertiup angin. Aku mengulangi menyalakan korek itu.... ssshhhh.... Lagi-lagi padam tertiup angin. Aku diam sejenak. Dan mencoba menyalakan kembali tapi tetap sama... Astaga... Aku jadi merinding!!! mana sepi lagi. Untuk kesekian kalinya aku mencoba menyalakan korek.

KLIK!!

Kali ini korek berhasil menyala. Ketika aku sedang mencari pembalut yang tadi kutaruh di pojok kamar mandi..... Astaga!!!!! Di depanku...... di depanku terlihat sosok perempuan yang menyeramkan!!! Dia berjongkok di pojok kamar mandi sambil memegangi sesuatu....

Saat kulihat, dia... dia... dia memegang pembalut yang tadi aku taruh di pojokan kamar mandi itu! Mulutnya tampak menyeringai seram dan lidahnya tiba-tiba keluar. Lidahnya panjang dan menjilati pembalutku!!!

Aku perlahan mundur dan mencoba membuka pintu kamar mandi. Tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Aku menjerit dalam hati... Astaga... Bagaimana ini?!

Sekilas kulihat perempuan itu melirik ke arahku sambil menjilat dengan lahap pembalutku. Dan beberapa detik kemudian lampu tiba-tiba menyala! Perempuan itu hilang!!!

Pintu yang sejak tadi aku coba buka, juga akhirnya berhasil dibuka. Aku segera berlari keluar dan masuk ke kamar. Aku berlari ke arah tempat tidurku dan menutup diri dengan bantal dan selimut. Sayup-sayup terdengar suara perempuan tertawa cekikikan di depan kamarku.
  
Keesokan paginya, ketika aku bercerita, teman-temanku bilang itu terjadi karena aku lupa membersihkan pembalut sebelum aku membuangnya di kamar mandi kampus! Bau anyir-nya mengundang makhluk halus untuk mengikutiku.



Source: Buku "Nightmare Side" by Tim Nightmare Side Ardan 105,9 FM Bandung 
Read More - hantu wanita

Thursday, June 28, 2012

hantu jembatan

Aku harus lulus SNMPTN tahun ini! Ini semua karena janji ayah. Jika aku berhasil menembus SNMPTN, maka ayah akan mewariskan VW-nya. Ini membuatku semakin mati-matian belajar. Termasuk ikut banyak bimbel dan les-les privat dari guru.

Cuma ada satu kata di pikiranku, mobil... mobil... mobil...!!! Aku sangat menginginkan mobil bukan karena aku manja. Tapi jujur, badanku rasanya rontok setiap hari naik motor dari rumahku di Cibiru Ujung Berung Bandung, ke sekolahku di daerah Setiabudhi.

Malam itu, sekitar pukul sebelas malam, aku baru saja pulang dari rumah guruku di Cijerah. Tadinya, aku hanya ingin meminta nasehat dia untuk menjawab soal SNMPTN. Ujung-ujungnya, guruku malah memberikan materi. Tidak apa-apa lah, siapa tahu berguna nantinya.

Aku mengemudikan motorku dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sepanjang jalan, aku memikirkan kunci rumah. Aku tidak membawanya, karena tidak berencana pulang selarut ini. Udara malam itu dingin sekali, mungkin karena hujan sepanjang hari dan baru reda sekitar pukul sembilan malam. Aku pulang lewat jalur Soekarno-Hatta yang langsung mengarah ke Cibiru. Karena memang tidak ada jalan yang lebih cepat selain Soekarno-Hatta. Hari sudah malam dan sedikit sekali kendaraan yang berkeliaran. Jadi aku bisa terus melaju dengan lancar.

Aku masih menjalankan motorku dengan kecepatan tinggi. Tidak terasa, aku sudah sampai di daerah Buah Batu. Ketika aku sampai di bawah jembatan penyebrangan di daerah Metro, tiba-tiba saja aku terkejut.

Ya Tuhan!!! Jantungku berdetak sangat kencang. Aku mengerem motorku mendadak. Setelah agak tenang aku melaju di pinggir. Jantungku berdetak semakin kencang. Duh!! Hampir saja aku menghantam mobil yang sedang parkir.

Apa itu tadi??? Saat akan melewati bawah jembatan penyebrangan, tiba-tiba sesuatu melintas. Seorang wanita, memakai baju putih. Hanya beberapa sentimeter saja dari motorku, hampir saja aku menabraknya. Untungnya aku spontan menginjak rem hingga motorku tidak terkendali. Oh, untung saja aku tidak jatuh ataupun menabrak apapun.

Aku segera turun dari motorku dan melihat ke arah jembatan penyebrangan itu. Tepat di pembatas jalan, berdiri seorang wanita. Dia memakai kaos putih dan celana jeans. Sial!! Itu pasti orang yang tadi menyebrang!!

Aku pun berteriak keras sekali, "Woy!! Lo gila ya??! Nyebrang liat-liat woy!!". Aku tahu, teriakanku mungkin tidak berpengaruh padanya, tapi cukuplah untuk meluapkan emosiku. Tapi wanita itu lalu berbalik melihat ke arahku dan melambaikan tangannya. Huh! Dia malah melambaikan tangan!

Saat sedang berpikir apa yang akan kulakukan selanjutnya, sebuah tangan menepuk bahuku. "Ada apa teriak-teriak?" terdengar suara lelaki. Aku kaget dan segera menoleh. Di depanku ada seorang laki-laki yang sudah cukup tua. Matanya agak sipit dengan tahi lalat di pelipis kanan. Dia sedang nongkrong di kios dekat aku berhenti.

Aku menjawab dengan sedikit emosi, "Itu kang!! Tadi perempuan itu nyebrangnya enggak liat-liat!! Saya hampir nabrak!!". Mendengar jawabanku, wajah laki-laki itu sedikit berubah, lalu bertanya pelan, "Perempuan yang mana?". Aku pun menunjuk ke arah perempuan tadi berdiri. Ternyata dia sudah tidak ada di sana. Lalu laki-laki itu bertanya lagi, "Nggg... perempuannya pakai baju putih? Terus nyebrangnya lari?"

Aku segera menjawabnya dengan penuh semangat, "Iya kang. Betul!! Akang juga liat tadi?". Wajah laki-laki itu benar-benar berubah, menunjukkan kekhawatiran. Dengan pelan dia berkata, "Yang tadi mah bukan manusia. Perempuan itu teh.... makhluk gaib.... Disini memang sering ada kecelakaan. Mobil berhenti mendadak, motor tiba-tiba oleng. Dan kata supirnya, mereka ngeliat perempuan nyebrang sambil lari mendadak. Dia pakai baju putih sama celana jeans. Udah banyak yang meninggal juga gara-gara kaget ngeliat dia nyebrang. Pokoknya semua yang ngeliat dia nyebrang, pasti kecelakaan parah!"

Aku lemas mendengarnya. Sekali lagi aku melihat ke arah jembatan itu dan tidak ada siapa-siapa di sana. Kemudian laki-laki tadi memegang-megang lenganku, "Enggak apa-apa khan? Wah beruntung sekali. Baru pertama nih yang liat si itu nyebrang terus gak jatuh. Syukurlah... Lain kali hati-hati kalau lewat daerah sini. Jangan ngebut, jangan ngelamun!"

Aku hanya bisa mengangguk-angguk saja. Tak lama, aku meneruskan perjalanan pulang. Sesaat sebelum aku menjalankan motorku, aku mengucapkan terima kasih kepada laki-laki tadi. Dan melihat ke arah jembatan itu sekali lagi.

Dia ada disana!!! Wanita baju putih itu ada tepat di pembatas jalan, masih melihat ke arahku dan melambaikan tangannya!!! Aku cepat-cepat memalingkan wajahku dan tancap gas.

***

Sekitar pukul 12 malam, aku sampai di rumah. Lututku masih lemas... Aku tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti tadi. Sebelumnya, aku tidak pernah bersentuhan dengan dunia seperti itu. Hhhhhh.... pikiranku masih melayang-layang. Aku mencoba untuk fokus namun susah. Akhirnya aku mengambil segelas air putih dari meja makan dan menenangkan diri di sofa depan TV.

Aaaahhh, air putih memang menenangkan. Ketika baru saja selesai minum, tiba-tiba terdengar sesuatu. Suara dari meja makan di belakangku. Suara... tudung saji yang dibuka, lalu terdengar suara beberapa piring digeser... Aku mulai merinding, karena aku tidak melihat seorang pun yang keluar dari kamar-kamar di rumah ini. Telingaku mendengarkan dengan waspada.

Oh... Sekarang suara itu sudah hilang. Aku menelan ludah. Hening. Kemudian, terdengar suara lagi. Masih dari meja makan. Suara seseorang sedang minum air!! Meski suara-suara yang keluar itu halus, tapi tidak mungkin aku salah mendengar. Dan aku semakin yakin saat terdengar pintu kulkas terbuka dan dengan cepat tertutup lagi! Lalu kembali hening.

Dengan sedikit ketakutan, aku memaksakan diri untuk melihat ke belakang. Perlahan aku menengok. Ternyata... tidak ada siapa-siapa. Tudung saji pun masih tertutup rapi. Astaga... Apa yang terjadi disini? Aku masih tidak bisa bergerak dan kembali memalingkan wajahku ke arah TV.

Aku berpikir untuk menyalakan TV agar ada suara-suara yang bisa membuatku tenang dan tidak merasa mendengar hal-hal yang aneh. Saat sebelum aku menekan tombol ON di remote, tiba-tiba kudengar suara, "A'... Aa'! Aa'!"

Suara wanita!! Jelas sekali!! Bukan suara ibuku ataupun saudaraku!!! Bukan pula suara seseorang yang aku kenal!!! Suara itu terdengar jelas sekali, datang dari belakangku! Aku pura-pura tidak mendengarnya dan mulai menyalakan TV.

"Aa'... A'?". Ya Tuhan, suara itu memanggil lagi. Tubuhku mulai gemetaran. Volume remote kutekan keras-keras untuk meninggikan suara TV. Dan tiba-tiba saja, tepat di sebelah kanan wajahku, ekor mataku menangkap wajah seorang wanita. Wanita itu mendekatkan kepalanya. Dia memanggilku, "A'.. Aa'!". Aku menjerit keras, membangunkan seisi rumah.

***

Besok sorenya, aku kembali datang ke tempat kemarin aku melihat wanita berbaju putih itu. Aku ingin bertemu dengan laki-laki yang kemarin aku temui. Laki-laki yang bercerita tentang hantu wanita jembatan disini. Aku ingin bertanya apakah kejadian di rumahku semalam ada hubungannya dengan wanita itu.

Tapi sepertinya laki-laki itu tidak ada di kios seperti kemarin. Ah, sial, aku masih penasaran! Akhirnya aku mendatangi kios itu dan menghampiri tiga laki-laki yang sedang mengobrol di situ. Aku pun menyapa mereka. Setelah berbasa-basi, aku mulai bertanya tentang hantu wanita itu.

Awalnya mereka segan bercerita. Akhirnya aku bercerita tentang pengalamanku kemarin. Mereka tampak kaget. Mereka akhirnya berpendapat kalau hantu wanita itu ikut pulang ke rumahku karena aku tidak mengalami kecelakaan. Lututku langsung terasa lemas.

Aku pun bercerita kalau tadi malam seorang laki-laki yang sedang nongkrong di kios ini sudah bercerita tentang hantu itu. Aku menyebutkan ciri-cirinya dan bertanya apakah nanti dia akan datang ke kios itu juga?

Salah seorang dari mereka berkata dengan ragu, "Orang yang disebut adek tadi seperti... Kang Herman. Benar, Kang Herman.. Dek, Kang Herman mah udah meninggal 4 hari yang lalu. Dia ketabrak mobil box yang oleng ke arah kios. Supir mobil box teh ngeliat perempuan itu nyebrang jalan mendadak".

Aku diam, tidak bisa berkata apa-apa. Seluruh tubuhku lemas... 
Read More - hantu jembatan

Sunday, April 22, 2012

pengemis

Aku paling benci dengan pengemis. Mudah saja sepertinya bagi mereka untuk mendapatkan uang, hanya tinggal menyodorkan telapak tangan, minimal seribuan masuk ke kantong. Aku memang pernah diingatkan temanku soal sikap benciku terhadap pengemis. Temanku bilang, beberapa pengemis anak-anak terjebak dan terpaksa mengemis untuk orang lain, untuk preman-preman. Kalau tidak mau, pengemis cilik itu akan dipukuli. Anehnya, entah kenapa mendengar cerita itu aku malah semakin malas memberi uang saat tahu uang itu hanya akan dipakai oleh preman-preman.

Ini karena aku sendiri merasakan betapa susahnya aku dulu setiap kali menginginkan sesuatu. Untuk mendapatkan sepeda pertamaku saja, aku harus membantu almarhum ayah mengantarkan bibit sawi dulu ke kampung-kampung. Ayah memang mendidikku untuk kerja keras dari kecil. Berkat ayah, aku jadi seperti ini. Seorang wanita workaholic, yang sukses. Bahkan di hari kematian ayah, aku tetap bekerja.

Lamunanku akan kenangan bersama ayah buyar ketika handphone-ku berbunyi. Ternyata telepon dari ibu. Sebenarnya agak susah sih mengangkat telepon sambil mengemudikan mobil. Tapi akhirnya aku angkat juga. Ibu hanya bertanya kenapa aku belum pulang selarut ini. Aku hanya menjawab aku sedang di jalan menuju rumah. Telepon pun ditutup.

Hari ini aku memang pulang terlalu malam, tadi aku menghabiskan malam dengan teman kuliahku dulu. Kami mengobrol sangat lama dan tidak sadar kalau malam sudah larut. Sekarang sudah jam 11 malam, dan aku masih di daerah Soekarno Hatta. Sendirian mengemudikan mobilku menuju rumahku di daerah Cibiru, Bandung. Ini pertama kalinya aku masih di luar rumah selarut ini. Jujur, aku orang yang penakut. Ya takut binatang, takut perampok, dan... takut hantu.

Hari semakin malam dan aku masih di Jalan Soekarno Hatta, beberapa meter dari perempatan Buah Batu. Aduh, ternyata aku tidak keburu mengejar lampu hijau. Paling malas rasanya jika sudah terhenti di lampu merah Soekarno Hatta ini karena waktu lampu merahnya lama. Aku memundurkan sandaran kursiku sedikit agar badanku sedikit rileks.

Tepat saat itu, sebuah sepeda motor berhenti di sebelah kanan mobilku. Pengemudinya memakai jaket tebal dan dia hanya menggunakan helm half face. Entah kenapa, dia terus saja melihat ke arah mobilku. Dia melihat ke arahku dan sesekali ke kaca belakang mobilku. Terus begitu hingga akhirnya dia tancap gas begitu saja. Menerobos lampu merah.

"Ah! Cari mati orang itu!!" umpatku dalam hati. Di saat yang sama, aku melihat pengemis-pengemis mulai mendatangi mobil-mobil. Kebanyakan anak-anak. Mereka semua benar-benar mengemis!! Hanya mengemis!! Hanya modal telapak tangan!! Tidak ada usaha lebih, mengamen kek, membersihkan jendela kek. Ah kesal sekali! Ini yang aku benci dari lampu merah!

Seorang pengemis mendekati mobilku. Berdiri di samping jendelaku. Seperti biasa, tanpa menengok ke arahnya, tanganku memberikan tanda bahwa aku tidak bisa memberikan uang. Tak lama, dia pergi. Berjalan, tapi tidak jauh...

Dari kaca spion aku bisa melihat dia, berhenti di samping jendela pintu belakang mobilku. Hanya berdiri, memandang ke dalam mobilku dan tidak melakukan apa-apa. Hah? Liat-liat apa dia?? Aku segera melihat ke kursi belakang, dan melihat laptop-ku yang tergeletak di kursi. Kurang ajar!! Pasti pengemis itu berniat jahat dengan laptop-ku!! Tiba-tiba aku dikagetkan dengan bunyi klakson. Sial, gara-gara pengemis itu, aku sampai tidak sadar kalau lampunya sudah hijau!!! Aku pun segera tancap gas. Dengan kecepatan cukup tinggi meninggalkan pengemis itu.

Arrggh, lagi-lagi aku terjebak lampu merah. Kali ini di perempatan Samsat Metro. Aku terpaksa berhenti. Oh iya, mumpung ingat, aku langsung memindahkan laptop yang tergeletak di kursi belakang ke kursi penumpang depan di sebelahku. Aku tidak mau lagi ada orang berdiri di sebelah jendelaku dan memandangi ke dalam seperti pengemis tadi. Rasanya tidak nyaman.

Tepat ketika aku selesai memindahkan laptop-ku, seorang pengemis datang ke jendela mobilku. Kali ini remaja, wanita. Dia menyodorkan telapak tangan. Dengan agak kesal aku memberi tanda aku tidak bisa memberinya uang. Pengemis itu lalu pergi. Dan lagi-lagi, dari spion samping aku melihat dia berhenti di pintu belakangku, memandang ke dalam.

Memandang apa lagi dia??? Laptop sudah kupindahkan dan tidak ada apa-apa lagi disana!!! Aku mulai merasa heran saat melihat pengemis itu...... pengemis itu menyodorkan telapak tangan juga!!! Seperti sedang meminta-minta!!! Ya Tuhan!!! Aku mulai merinding!!! Sebenarnya apa yang pengemis-pengemis itu lihat di kursi belakang mobilku????

Dengan ragu-ragu aku melirik spion tengah untuk melihat kursi belakang. Ternyata..... tidak ada apa-apa!!! Kosong!!! Aku melihat lagi ke spion samping dan melihat pengemis itu masih berdiri disana meminta uang!!! Aku mulai gemeteran.

Aku lihat lampu ternyata sudah kuning dan aku tidak sabar menunggu. Jadi aku membunyikan klakson dan mengedipkan lampu ke mobil di depanku untuk segera maju. Untunglah dia mengerti dan dia maju. Aku pun langsung tancap gas!

Astaga.... perasaanku sangat tidak enak... Aku takut sekali.... Sepanjang daerah Metro itu aku tidak berani melirik kemana-mana, hanya memandang lurus ke depan. Rasa takutku semakin menjadi ketika aku melintasi jembatan penyebrangan Metro yang memang terkenal dengan cerita-cerita ghaibnya. Tenggorokanku kering, bahkan menelan ludah pun aku sulit. Aku mempercepat jalan mobilku sambil terus berdoa meminta perlindungan. Ingin rasanya aku cepat sampai di rumah. Dari jauh aku sudah bisa melihat simpang empat Gede Bage. Itu berarti perempatan terakhirku malam ini.

Aku tancap gas semakin kencang. Terlihat di depan, lampu sudah kuning dan aku masih beberapa meter dari perempatan. Tolong Tuhan, biarkan aku lewat perempatan ini!!! Ayolaaaaaaahhhh!!!! Dan yak, sial sekali aku!!! Lampunya keburu merah!!! Mobilku berhenti di paling depan dan setengah mobilku melebihi garis putih karena terlambat berhenti.

Jantungku berdetak kencang sekali! Nafasku mengalir tidak beraturan! Di saat yang sama, beberapa pengemis di perempatan itu mulai bergerak. Entah kenapa kali ini, mereka semua nampak seperti zombie! Sangat menyeramkan bagiku! Ketika ada seorang pengemis mendekati mobilku, rasanya aku ingin menangis.

Kali ini yang mendatangi mobilku adalah seorang anak kecil lagi, laki-laki dengan kepala hampir plontos. Dia berdiri di samping jendelaku dan meminta uang. Aku melihat ke arahnya. Tidak tahu apa yang aku pikirkan. Tidak membuka kaca dan tidak juga berniat memberi uang. Aku hanya melihatnya. Melihat pengemis itu.

Belum sempat aku berbuat apa-apa, pengemis itu lalu berjalan. Berjalan ke pintu belakang dan berhenti disana. Dia.... dia.... melihat ke arah jendela dan meminta uang!!! Ya Tuhan, aku lemas, takut sekali. Lihat apa sebenarnya dia??? Dengan gemetar, aku membuka jendela pintuku dan memanggil anak itu. Dia mendatangiku dan aku lalu bertanya dengan gugup, "Kenapa minta uang ke belakang? Ada siapa?". Dan dengan polos, pengemis itu menjawab, "Itu ada nenek-nenek mau ngasih uang".

Seluruh tubuhku lemas seketika. Dengan sisa-sisa tenaga, perlahan aku menengok ke kursi belakang dan melihat ada apa disana.

As..... astaga.....!!!!! Di kursi belakang mobilku......... duduk seorang nenek-nenek!!!! Melihat ke arahku!!!! Menyeringai lebar!!!! Matanya........... matanya bolong!!!!!!!!!!

Aaaaarrrggghhhh.!!!!!!! Aku spontan tancap gas, dan.............

BRAK!!!!!!

Itu hal yang terakhir aku ingat. Besoknya aku terbangun di rumah sakit. Orang-orang berkata aku salah karena melanggar lampu merah dan tertabrak mobil yang melintas. Ya Tuhan! Andai mereka tahu yang sebenarnya.


source: buku "Nightmare Side"
Read More - pengemis

Saturday, April 21, 2012

rumah kosong

Pernah dengar cerita rumah misterius di Jalan Uranus Tengah, daerah perumahan Margahayu Raya, Bandung? Aku tidak hanya dengar, tapi hal yang misterius itu aku alami sendiri.

Kejadian ini aku alami sendiri saat aku masih kelas 5 SD. Seperti biasa, sebelum Maghrib aku selalu mengaji bersama teman-teman di gedung serbaguna dekat rumahku. Kebiasaanku sebelum mengaji adalah bermain-main dulu di sekitar perumahanku. Setelah cukup bermainnya, baru aku pergi ke gedung serbaguna untuk mengaji.

Sekitar jam setengah tujuh, saat sedang mengaji, konsentrasiku buyar seketika. Di balik jendela ruang serbaguna muncul seseorang yang berbisik memanggilku, "Ssssttt sini.... sini....". Ah, ternyata itu Ardi. Mau apa ya dia mengendap-ngendap memanggilku seperti itu. "Sudah beres ngajinya?" tanya Ardi. Aku menggelengkan kepala, "Belum. Emang ada apa, Di?"

"Aku mau nunjukin sesuatu abis kamu ngaji nanti ya?". Aku jadi penasaran apa yang mau Ardi tunjukan padaku. Jadi begitu mengaji selesai, aku langsung keluar mencari Ardi. Ternyata dia masih menungguku di balik jendela. Aku menghampiri Ardi, "Mau nunjukin apa sih?". Ardi balik bertanya, "Kamu mau pulang khan?". Aku menjawabnya dengan anggukan kepala. "Ya sudah, tempat yang mau aku tunjukin sekalian lewat kok", cetus Ardi sambil menarikku. Dengan patuh Ardi melewati jalan yang biasa aku lewati pulang. Baru beberapa langkah, Ardi berhenti dan menunjuk ke arah sebuah rumah kosong. Rumah yang baru setengah jadi dengan cat putih dan penerangan seadanya.

"Lihat itu!" kata Ardi sambil menunjuk bagian pintu rumah yang belum terpasang pintunya. Aku mencoba melihat dengan jeli ke arah rumah yang cahayanya remang-remang itu. Mencoba mencari apa yang Ardi maksud.

"Ah, apaan Di! Gak ada apa-apa....." kataku, karena memang aku tidak melihat apa-apa. "Coba lihat sekali lagi dengan seksama" Ardi setengah memaksa. Aku jadi semakin penasaran untuk bisa melihat apa yang ingin Ardi tunjukan. Saat aku perhatikan lagi bagian pintu rumah itu, "Astagaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Apa itu??!!" pekikku.

Aaaa... aku melihat sebuah kepala tanpa badan yang melayang. Tampak jelas sekali, itu sebuah kepala wanita dengan rambut panjang. Hanya kepala! Tanpa badan! Wajahnya pucat tanpa ekspresi dan matanya menatap tajam padaku. Kontan aku langsung menangis! Aku menutup mataku dan jongkok memeluk kedua tumitku yang bergetar! Aku kesal dengan Ardi! Ardi memang terkenal besar nyalinya, tapi tidak perlu seperti ini pembuktiannya. Sialan dia! Apalagi tampaknya dia sama sekali tidak takut melihat penampakan itu.

"Kamu mau pulang?" tiba-tiba Ardi bertanya. Dalam tangisku aku mengiyakan, "Iya, aku mau pulang, tapi takut..." rengekku. Aku memang takut sekali karena kalau pulang, mau tidak mau aku harus melewati rumah kosong itu untuk sampai ke rumah. Tampaknya Ardi kasihan melihatku ketakutan. Dia pun bilang akan mengantarkanku. Dia merangkulku saat berjalan, dan aku mengikutinya dengan kepala tetap merunduk, badan sedikit membungkuk, dan mata setengah terpejam. Ardi terus menuntunku.

Di tengah jalan, Ardi bertanya kepadaku, "Kamu mau lihat lagi gak? Kalau mau saya berhenti nih". Haah? Aku benar-benar shock dan ketakutan mendengarnya. Tapi anehnya jawabanku adalah anggukan kepala. Ardi yang saat itu menuntunku pun langsung berhenti berjalan. Aku merasa Ardi berhenti di depan pintu rumah kosong itu.

"Tuh, lihat" tantang Ardi. Dan herannya aku menuruti perkatannnya dan mengangkat kepalaku perlahan. Hhhh.... untung. Ternyata di hadapanku tidak ada apa-apa. Aku menghela nafas lega. Namun samar-samar aku mulai menyadari terdengar suara tawa wanita. Dan saat aku berbalik hendak berlari, ooooooohh, di belakangku... ada sosok kepala wanita tanpa badan! Kepala yang daritadi sudah tepat di belakangku. Tersenyum dan matanya membelalak tajam! Yang anehnya lagi, Ardi yang tadi bersamaku sekarang tidak ada! Pasti dia meninggalkanku disini!

Aku langsung lari menuju rumah. Menggedor pintu dengan panik. Dan setelah ibu membukakan pintu, aku langsung lemas tak sadarkan diri.

Esoknya aku terkena demam tinggi. Setelah aku sanggup bicara, aku mulai menceritakan kejadian itu kepada ibuku. Ibuku lalu bertanya apa yang aku lakukan sebelum mengaji. Aku mengingat-ingat lagi dan sepertinya sebelum mengaji aku memang bermain bersama Ardi di halaman belakang rumah itu. Aku dan Ardi, saat itu main kubur-kuburan barang. Sampai aku bentuk seperti kuburan. Mungkin penunggu rumah itu tidak suka. Jadi memperlihatkan dirinya kepadaku.

Yang pasti, aku tidak tahu kenapa Ardi tega meninggalkanku di depan rumah itu. Jadi saat aku bertemu Ardi, aku langsung bertanya. "Kamu kemana malam kemarin? Tega sekali ninggalin aku sendiri!" tegurku galak. Ardi memandangku dengan mata terbelalak. "Lho, kemarin itu aku gak ada di Bandung. Dan... main kubur-kuburan sore-sore sama kamu? Gak mungkin. Dari dua hari lalu aku sudah gak di Bandung".


source: buku "Nightmare Side"
Read More - rumah kosong

twitter

follow my blog

 

Copyright © Shafira. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver